Owner SPPG Babur Rizki Camplong Tepis Isu Miring Terkait Menu MBG Yang Beredar Di Masyarakat
SAMPANG, radargpn.com-Owner Yayasan Babur Rizki, Eko Haryono, menanggapi isu miring terkait menu Program SPPG yang beredar di tengah masyarakat.
Menurutnya, Yayasan Babur Rizki telah menjalankan program sesuai ketentuan dan berkomitmen memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat, khususnya siswa didik di Kecamatan Camplong.
“Terkait isu miring soal menu kemarin, saya pikir sebenarnya tidak perlu ditanggapi. Karena SPPG Yayasan Babur Rizki jelas memberikan yang terbaik untuk masyarakat, khususnya bagi siswa didik yang ada di Kecamatan Camplong,” ujar Eko Haryono, Selasa (271/2026).
Ia menjelaskan, persoalan menu tidak bisa dilepaskan dari skema anggaran yang telah diatur secara ketat. Anggaran yang dialokasikan pemerintah, tidak seluruhnya langsung dibelanjakan setiap hari.
“Perihal menu, itu sudah disesuaikan dengan anggaran yang ada. Jadi, jumlah anggaran yang digelontorkan oleh Bapak Prabowo misalnya sebesar Rp30 juta per hari, itu tidak serta-merta Rp30 juta tersebut habis dibelanjakan,” jelasnya.
Menurut Eko, dari total anggaran harian tersebut, dana yang dapat digunakan untuk belanja hanya sekitar setengahnya.
“Walaupun anggarannya Rp30 juta per hari, yang dibelanjakan hanya Rp15 juta. Yang bisa diambil memang hanya Rp15 juta, bukan seenaknya,” tegasnya.
Ia menekankan, mekanisme tersebut bukanlah keputusan sepihak dari pihak yayasan, melainkan sudah menjadi ketentuan yang berlaku.
“Ini bukan keputusan sepihak dari owner atau pihak lain, tetapi memang ketentuannya seperti itu. Setiap hari menu juga berbeda, dengan pembelanjaan yang berbeda pula. Jadi, menu yang disajikan menyesuaikan dengan pembelanjaan, karena patokan harga sudah jelas,” lanjutnya.
Eko juga menyoroti masih adanya kesalahpahaman di masyarakat terkait perhitungan anggaran program tersebut.
“Aturan dari Bapak Prabowo itu sangat jelas. Logikanya seperti ini, anggaran Rp10 ribu dengan kuota 3.000 orang berarti anggaran per hari Rp30 juta. Namun jangan dikira Rp30 juta itu masuk ke dapur semuanya. Tidak seperti itu. Kami harus menalangi terlebih dahulu,” paparnya.
Talangan yang dikeluarkan pihak yayasan setiap hari, sambung Eko, hanya sebesar Rp15 juta sesuai ketentuan yang diperbolehkan.
“Talangan yang kami keluarkan per hari untuk dibelanjakan hanya Rp15 juta. Jadi yang bisa diambil memang Rp15 juta, bukan Rp30 juta. Hal inilah yang mungkin disalahpahami oleh wali murid dan pihak lainnya,” katanya.
Ke depan, Eko berharap seluruh pihak, khususnya Pemerintah Kabupaten Sampang, dapat lebih cermat dalam menyikapi informasi yang beredar di masyarakat.
“Harapan ke depan, khususnya kepada Pemerintah Kabupaten Sampang, agar lebih jeli dan tidak serta-merta mengambil atau menyimpulkan informasi yang belum jelas. Jangan melihat dari sudut pandang pihak yang tidak suka, tetapi harus lebih teliti,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya kekompakan internal, terutama di lingkungan sekolah.
“Kepada pihak sekolah, saya berharap untuk tetap kompak dan solid demi menjaga nama baik bersama,” pungkasnya.(JZL)
